Jangan tempel data rahasia ke AI: lima pemeriksaan sebelum mengirim prompt

Sebelum mengirim prompt AI untuk pekerjaan, pastikan alatnya diizinkan, data boleh diproses, hasilnya dapat diverifikasi, dan kesalahan bisa dilaporkan. Jika salah satu syarat belum jelas, jangan kirim data asli: gunakan data sintetis, samarkan materi, atau kerjakan tanpa AI.
Gunakan lima pemeriksaan berikut untuk teks, dokumen, gambar, rekaman rapat, transkrip, kode, ekstensi peramban, dan berkas yang dapat diakses AI melalui konektor. Persetujuan atas satu chatbot atau satu jenis tugas tidak otomatis berlaku untuk akun, fitur, dan data lainnya.
1. Apakah alat dan akun ini diizinkan?

Nama merek terkenal, layanan berbayar, atau label “enterprise” bukan pengganti persetujuan organisasi. Cari daftar layanan yang disetujui, pastikan fungsi yang akan digunakan termasuk dalam izin, dan masuk melalui akun kerja bila kebijakan perusahaan mensyaratkannya. Akun pribadi, plugin, konektor, serta fitur baru pada alat yang sudah tersedia perlu diperiksa secara terpisah.
Panduan keamanan Microsoft menyarankan pekerja memakai layanan AI yang disetujui perusahaan, tidak mengungkapkan informasi sensitif, rahasia, atau data pribadi pegawai dan vendor, serta memeriksa kembali hasil AI. Khusus Microsoft 365 Copilot, panduan tersebut juga meminta pengguna masuk dengan akun kerja agar perlindungan akses dan berkas yang sesuai dapat diterapkan.
Periksa pula cakupan kemampuan alat: apakah ia dapat mencari web, membaca folder, memanggil layanan lain, atau menjalankan tindakan? Izin untuk chatbot teks belum tentu mencakup agen dengan akses yang lebih luas. Dokumen dari luar juga dapat memuat instruksi tersembunyi bagi agen AI, sehingga konektor dan tindakan otomatis harus dibatasi sesuai hak akses pengguna.
2. Data apa yang akan masuk?
Klasifikasikan seluruh masukan, bukan hanya kalimat yang diketik. Bedakan informasi publik, informasi internal, rahasia perusahaan, serta data pribadi atau sensitif. Materi pelanggan, kata sandi dan kunci akses, kode sumber tertutup, strategi harga, hasil audit, kontrak yang belum diumumkan, data kesehatan, nomor identitas, alamat, dan catatan kinerja pegawai tidak menjadi aman hanya karena ditempel dalam prompt pendek.
Periksa juga hak untuk memproses materi pihak lain. Akses untuk membaca artikel berbayar, naskah, foto, desain, perangkat lunak, atau dokumen pelanggan tidak selalu mencakup izin untuk mengunggahnya ke layanan AI. Pastikan lisensi, kontrak, dan kebijakan organisasi memang mengizinkan cara penggunaan tersebut.
Di Indonesia, Surat Edaran Menteri Kominfo Nomor 9 Tahun 2023 memasukkan keamanan, transparansi, akuntabilitas, pelindungan data pribadi, dan kekayaan intelektual ke dalam nilai etika AI. Dokumen itu juga memuat penyusunan kebijakan internal mengenai data dan etika AI sebagai bagian dari kerangka bagi pelaku usaha dan penyelenggara sistem elektronik; bagi pekerja, aturan operasional tetap harus dicari dalam kebijakan organisasinya sendiri.
3. Apakah cara pemrosesannya diizinkan?

Alat yang disetujui belum tentu boleh menerima semua kategori data. Periksa tujuan penggunaan, siapa yang dapat mengakses input dan keluaran, masa penyimpanan, kemungkinan input dipakai untuk pengembangan atau pelatihan, lokasi pemrosesan, serta apakah fitur pencarian dan konektor meneruskan informasi kepada pihak ketiga. Jangan menebak jawaban yang tidak tersedia dalam kebijakan organisasi, konfigurasi layanan, atau kontrak.
Panduan privasi OAIC meminta organisasi menilai akses pengembang dan pihak ketiga, aliran data, lingkungan operasi, serta pengawasan manusia sebelum memakai produk AI komersial. Regulator Australia itu juga memperingatkan bahwa informasi pribadi yang sudah dimasukkan ke AI generatif dapat sulit dilacak atau dikendalikan, mungkin tidak dapat dihapus, dan tetap berisiko diidentifikasi kembali setelah disamarkan.
Karena itu, penyamaran harus menghilangkan kombinasi petunjuk yang dapat mengenali individu, pelanggan, transaksi, atau proyek. Menghapus nama belum cukup jika prompt masih memuat jabatan unik, tanggal persis, lokasi, nilai kontrak, nomor tiket, dan uraian kejadian.
Contoh kondisional untuk merangkum pola keluhan tanpa memasukkan kasus asli:
“Kelompokkan tema dari 12 keluhan pelanggan sintetis berikut. Gunakan label Pelanggan A–L, rentang waktu Bulan 1–3, dan nilai transaksi dalam kategori rendah, sedang, atau tinggi. Jangan menebak identitas atau fakta yang tidak tersedia.”
Sebelum memakai pola itu, pastikan teks sintetis tidak mempertahankan kutipan khas, alamat, nomor tiket, atau rincian lain dari kejadian nyata. Jika pekerjaan tetap membutuhkan identitas atau dokumen asli, minta otorisasi yang dipersyaratkan atau gunakan lingkungan yang secara khusus disetujui untuk kategori data tersebut.
4. Bisakah keluaran diverifikasi?

Perlakukan keluaran AI sebagai draf, bukan bukti. Cocokkan nama, angka, tanggal, kutipan, rujukan hukum, rumus, dan klaim faktual dengan dokumen otoritatif yang benar-benar dibuka. Periksa pula apakah tautan dan referensi yang diberikan memang ada dan mendukung pernyataannya.
Sesuaikan pemeriksaan dengan dampak penggunaan. Draf ide internal tidak memiliki risiko yang sama dengan keputusan kredit, evaluasi pegawai, nasihat hukum, laporan keselamatan, atau komunikasi kepada pelanggan. Untuk hasil yang dapat memengaruhi hak atau perlakuan terhadap seseorang, nilai juga kemungkinan bias, informasi yang tidak lengkap, dan perlakuan tidak adil.
Tentukan peninjau sebelum prompt dikirim. Peninjau harus mampu menilai substansi dan sumber pendukung, bukan hanya mengoperasikan alat AI. Jika tidak ada orang yang kompeten untuk menguji kebenaran keluaran, alat tersebut tidak layak dipakai untuk menyelesaikan tugas itu.
5. Bisakah penggunaan dan insiden dicatat?
Simpan catatan sesuai kebijakan organisasi: alat dan akun yang digunakan, tujuan, kategori data, versi materi yang telah disamarkan, prompt, sumber verifikasi, peninjau, dan keputusan akhir. Jangan membuat arsip bayangan yang justru menggandakan data sensitif; gunakan lokasi resmi dan masa retensi yang ditetapkan.
panduan GenAI Kementerian Hukum Singapura memuat contoh klausul yang mensyaratkan otorisasi tertulis sebelum informasi rahasia, pribadi, atau sensitif dimasukkan, verifikasi keluaran sebelum digunakan, pencatatan input ketika bagian penting pekerjaan bergantung pada AI, serta pelaporan segera atas penyalahgunaan, kesalahan, atau kebocoran data. Pedoman tersebut tidak mengikat dan ditujukan untuk pekerjaan hukum di Singapura, sehingga contoh kontrolnya dapat menjadi model internal, bukan pengganti hukum Indonesia atau kebijakan perusahaan.
Jika data terlarang telanjur terkirim, hentikan penggunaan dan jangan menganggap penghapusan percakapan telah menyelesaikan masalah. Catat alat, akun, waktu, kategori data terdampak, dan tindakan yang sudah terjadi, lalu gunakan jalur respons insiden yang ditentukan organisasi. Jangan menyalin kembali data sensitif ke kanal pelaporan yang tidak aman.
Kirim hanya jika kelima jawabannya jelas: alat diizinkan, data sesuai klasifikasi, cara pemrosesan diperbolehkan, keluaran dapat diverifikasi, dan penggunaan dapat dipertanggungjawabkan. Jawaban “tidak tahu” berarti berhenti dan meminta kepastian sebelum menekan tombol kirim.
Baca juga:
Berlangganan buletin kami
Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.