AI dan Otomatisasi

China sudah memiliki hampir 200 standar AI, termasuk tinjauan etika

|Penulis: Tim Redaksi QUASA|4 mnt baca| 1
China sudah memiliki hampir 200 standar AI, termasuk tinjauan etika

Pada 26 Agustus 2026, Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi China Xin Guobin menyatakan bahwa negaranya telah menyusun hampir 200 standar utama kecerdasan buatan. Dalam konferensi pers di Beijing itu, ia juga mengatakan bahwa sejumlah kota sedang menjalankan praktik tinjauan dan layanan etika AI, menurut transkrip resmi MIIT.

Pada tanggal yang sama, China Fund News melaporkan angka hampir 200 tersebut dan penerapan AI dalam riset, manufaktur, serta pemeriksaan mutu. Pengumuman ini menunjukkan luasnya pembangunan standar AI China, tetapi belum menyediakan katalog yang menjelaskan identitas, ruang lingkup, atau status hukum setiap dokumen.

Angka hampir 200 belum menjadi peta kewajiban

Sistem AI dipetakan dari riset dan desain hingga produksi, inspeksi mutu, serta pemeliharaan.

Angka agregat itu mencakup “standar utama”, bukan 200 undang-undang baru yang berlaku serentak. Dalam penjelasan kebijakannya, pemerintah China menempatkan pekerjaan standardisasi berikutnya dalam kelompok dasar yang berlaku umum, penerapan atau pemberdayaan AI, serta keamanan dan etika.

Pengelompokan tersebut memberi gambaran tentang tahap yang dapat disentuh sebuah standar. Lapisan dasar dapat berkaitan dengan komponen bersama seperti data, algoritma, atau model; lapisan penerapan menghubungkan AI dengan produk dan proses industri; sedangkan lapisan keamanan dan etika berurusan dengan risiko serta mekanisme pengendaliannya.

Namun, pengumuman 26 Agustus tidak menyebut nomor, judul, lembaga penerbit, versi, tanggal berlaku, sektor, maupun status wajib atau rekomendatif dari hampir 200 dokumen itu. Karena itu, angka tersebut belum dapat dipakai untuk menyimpulkan bahwa sebuah produk harus memperoleh satu sertifikat tunggal atau memenuhi seluruh standar yang disebutkan.

Standar dan kewajiban hukum harus dibedakan

Sebuah standar dapat menjadi penting melalui beberapa jalur yang berbeda. Ada standar yang ditetapkan sebagai persyaratan wajib, sementara standar lain berfungsi sebagai acuan sukarela, spesifikasi teknis, syarat pengadaan, dasar sertifikasi, atau ketentuan kontrak. Status tersebut harus diperiksa pada masing-masing dokumen, bukan ditebak dari jumlah keseluruhannya.

Perbedaan ini juga membatasi klaim pemasok. Pernyataan seperti “memenuhi semua standar AI China” tidak cukup tanpa daftar standar yang dimaksud, ruang lingkup produk yang diperiksa, versi dokumen, serta bukti pengujian atau penilaian. Kepatuhan sebuah model dasar pun tidak otomatis mencakup integrasi lokal, data pelanggan, perangkat keras, atau prosedur operasi setelah sistem diterapkan.

Cakupan penggunaan AI yang disebut dalam konferensi pers—mulai dari riset dan desain hingga produksi, pemeriksaan mutu, operasi, dan pemeliharaan—menunjukkan bahwa bukti kepatuhan dapat berada di beberapa bagian rantai teknologi. Sistem visi komputer di pabrik, misalnya, memiliki konteks operasional yang berbeda dari model yang membantu perancangan produk atau agen yang menangani pemeliharaan.

Tinjauan etika masih dijalankan sebagai program perintis

Tim program kota meninjau data, algoritma, dan model dalam pelaksanaan tinjauan etika AI.

Tinjauan etika yang disebut Xin merupakan program terpisah yang sedang berlangsung, bukan bukti bahwa seluruh standar dalam angka hampir 200 itu berisi prosedur etika yang sama. Berdasarkan pemberitahuan program perintis MIIT, periode pelaksanaannya berlangsung pada 1 Juni–30 November 2026 dan melibatkan kota-kota yang direkomendasikan oleh sepuluh pemerintah tingkat provinsi atau munisipalitas.

Kota peserta wajib memasukkan lapisan dasar AI seperti data, algoritma, dan model. Setiap kota juga memilih sedikitnya tiga bidang vertikal dari manufaktur, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan, kesehatan, keuangan, pertanian, pariwisata, dan konsumsi.

Program tersebut meminta organisasi peserta membentuk komite etika atau menggunakan pusat layanan peninjauan setempat. Aktivitas berisiko tinggi dapat menjalani peninjauan ahli, sedangkan informasi risiko dan perkembangan pemeriksaan dilaporkan melalui jaringan pemantauan nasional. Setelah periode program berakhir, kota peserta menyerahkan laporan dan MIIT melakukan evaluasi.

Status perintis ini penting: praktik peninjauan sedang diterapkan di sejumlah kota dengan kerangka kerja yang ditentukan, tetapi belum dapat diperlakukan sebagai satu prosedur nasional yang identik untuk setiap produk, perusahaan, atau penggunaan AI.

Konsekuensi bagi pembeli teknologi di Indonesia

Tim pengadaan Indonesia memeriksa bukti standar, ruang lingkup pengujian, dan tanggung jawab pemasok AI China.

Bagi perusahaan Indonesia, dampak langsung muncul ketika membeli model, layanan, perangkat industri, komponen cerdas, atau sistem manufaktur dari pemasok China. Pertanyaan utamanya bukan sekadar apakah pemasok mengaku patuh, melainkan bagian sistem dan tahap siklus AI mana yang benar-benar telah diperiksa.

Uji tuntas pemasok dapat difokuskan pada bukti berikut:

  • nomor, judul, versi, status, dan ruang lingkup setiap standar yang diklaim berlaku;
  • pemetaan standar terhadap data, algoritma, model, aplikasi, pengujian, operasi, dan pemeliharaan;
  • identitas lembaga penguji atau pemberi sertifikasi, metode penilaian, masa berlaku, dan batas hasilnya;
  • keterangan mengenai partisipasi dalam tinjauan etika, termasuk aktivitas yang ditinjau dan tindak lanjut atas temuan;
  • prosedur pemberitahuan ketika model, komponen, lokasi pemrosesan data, standar, atau subpemasok berubah;
  • pembagian tanggung jawab kontraktual untuk dokumentasi, audit, insiden keamanan, pembaruan, dan penghentian layanan.

Bukti tersebut tetap harus dibandingkan dengan kewajiban di Indonesia dan yurisdiksi lain tempat sistem digunakan. Kesesuaian terhadap suatu standar China tidak dengan sendirinya membuktikan kepatuhan terhadap aturan perlindungan data, keamanan siber, perlindungan konsumen, atau ketentuan sektoral di negara tujuan.

Rincian yang masih ditunggu

Yang telah dikonfirmasi adalah angka hampir 200 standar utama, penggunaan AI di berbagai tahap rantai industri, serta pelaksanaan tinjauan etika di sejumlah kota. Yang belum tersedia dalam pengumuman tersebut adalah daftar terpadu yang memungkinkan publik menilai status dan cakupan setiap standar.

Perkembangan berikutnya yang relevan adalah publikasi katalog yang lebih rinci dan hasil evaluasi program perintis setelah masa pelaksanaannya berakhir. Sampai data itu tersedia, angka hampir 200 paling tepat dibaca sebagai ukuran luasnya infrastruktur standardisasi AI China, bukan sebagai daftar seragam kewajiban bagi semua pemasok dan pengguna.

Baca juga:

Bagikan:

Berlangganan buletin kami

Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.

0