Keuangan dan Pasar

Ajaib mendapat US$270 juta—modal baru dibawa ke Asia Tenggara

|Penulis: Tim Redaksi QUASA|4 mnt baca| 5
Ajaib mendapat US$270 juta—modal baru dibawa ke Asia Tenggara

Menurut laporan ANTARA tertanggal 28 Agustus 2026, Ajaib memperoleh investasi US$270 juta atau sekitar Rp4,8 triliun dari SBI Holdings. Dana tersebut akan dialokasikan ke berbagai lini bisnis Ajaib di Asia Tenggara, dengan harapan porsi terbesar tetap tertanam di Indonesia.

Transaksi dilakukan melalui anak perusahaan SBI dan bukan sekadar penempatan modal tanpa keterlibatan strategis. Dalam pengumuman resmi investasi pada Ajaib, SBI menyatakan telah memperoleh 20% saham sehingga perusahaan yang berbasis di Jakarta itu menjadi entitas asosiasi yang dicatat dengan metode ekuitas.

Dana baru memperbesar modal kumulatif Ajaib

Ajaib mengalokasikan modal strategis untuk pengembangan bisnis dan perekrutan di Indonesia.

Rincian pendanaan yang dihimpun The Block menunjukkan bahwa putaran US$270 juta membawa total modal yang pernah diperoleh Ajaib sejak 2019 menjadi lebih dari US$500 juta. Media tersebut juga mencatat bahwa penyebutan transaksi sebagai pendanaan teknologi terbesar di Indonesia sejak 2022 berasal dari klaim Ajaib.

Angka kumulatif itu tidak berarti seluruh dana masih tersedia sebagai kas. Nilainya mencakup beberapa tahap pendanaan, sedangkan penggunaan putaran terbaru baru dijelaskan dalam garis besar: pengembangan bisnis regional dan perluasan perekrutan di Indonesia.

Belum ada pembagian publik menurut negara, produk, ataupun jadwal belanja. Jumlah pegawai yang akan direkrut, jenis posisi, serta besarnya modal yang ditempatkan pada setiap lini usaha juga belum diumumkan. Karena itu, nilai transaksi sudah pasti, tetapi jalur rinci uang tersebut masih harus menunggu keterbukaan berikutnya dari perusahaan.

Ajaib mengisi kepentingan SBI pada aset digital Asia

Layanan multi-aset Ajaib menghubungkan produk keuangan tradisional dan aset digital bagi nasabah Indonesia.

Daya tarik Ajaib bagi SBI terletak pada gabungan layanan keuangan konvensional dan aset digital. Platform tersebut menyediakan akses ke saham domestik dan internasional, obligasi, reksa dana, ETF, aset kripto, stablecoin, komoditas, serta valuta asing, disertai layanan pembayaran dan simpanan.

Untuk perusahaan dan investor institusi di Indonesia, Ajaib juga menyediakan penyelesaian stablecoin secara over-the-counter dan likuiditas yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Cakupan itu membuat Ajaib relevan bagi rencana SBI membangun jaringan infrastruktur keuangan digital di kawasan Asia-Pasifik, bukan hanya sebagai aplikasi perdagangan saham ritel.

SBI telah memiliki operasi aset kripto di Jepang, Singapura, dan Inggris melalui sejumlah perusahaan dalam grupnya. Masuk ke Ajaib memberi kelompok keuangan Jepang itu kepemilikan langsung pada platform Indonesia yang telah menggabungkan produk investasi tradisional dengan aset digital. Kepentingan kedua pihak bertemu pada perluasan layanan keuangan modern, meski hasil komersial kemitraan tersebut belum dapat diukur.

Ekspansi Asia Tenggara tetap bertumpu pada Indonesia

Penyebutan Asia Tenggara sebagai tujuan penggunaan modal belum berarti negara ekspansi berikutnya sudah dipilih. Ajaib belum membuka pasar mana yang akan dimasuki, izin apa yang sedang disiapkan, produk lintas batas apa yang akan ditawarkan, atau apakah ekspansi akan dilakukan sendiri maupun bersama perusahaan dalam jaringan SBI.

Langkah yang lebih konkret berada di Indonesia, tempat Ajaib menjalankan basis operasinya. Penambahan perekrutan domestik dapat memperbesar kapasitas pengembangan produk, kepatuhan, operasi, dan layanan nasabah, tetapi perusahaan belum merinci fungsi mana yang akan mendapat tambahan tenaga kerja.

Konsekuensi regional juga tidak otomatis muncul hanya karena modal telah masuk. Dampaknya baru terlihat ketika perusahaan mulai mengumumkan pasar sasaran, bentuk layanan, mitra lokal, kebutuhan perizinan, serta jadwal pelaksanaan. Sampai saat itu, Asia Tenggara merupakan arah ekspansi yang dinyatakan, sedangkan Indonesia tetap menjadi pusat kegiatan yang paling jelas.

Transaksi besar belum menandai berakhirnya tech winter

SBI Holdings mengambil sekitar 20% saham Ajaib dalam investasi strategis bernilai US$270 juta.

Masuknya modal dalam jumlah besar menunjukkan bahwa perusahaan teknologi Indonesia masih dapat menarik investor global ketika terdapat kecocokan produk dan strategi. Namun, transaksi Ajaib memiliki karakter khusus: investor korporasi memperoleh kepemilikan signifikan dan dapat memanfaatkan posisi Ajaib untuk memperluas agenda aset digitalnya di Asia.

Karena itu, kesepakatan ini belum cukup untuk membuktikan pemulihan pendanaan teknologi domestik secara menyeluruh. Kesimpulan semacam itu memerlukan peningkatan transaksi pada lebih banyak perusahaan, tahap pendanaan, dan jenis investor. Satu putaran besar dapat menjadi sinyal bahwa modal masih tersedia, tetapi tidak menghapus selektivitas pasar.

Bagi ekosistem Indonesia, arti terdekatnya lebih terbatas tetapi tetap penting: platform dengan basis operasi yang matang, layanan yang berjalan, dan peran jelas dalam strategi regional investor masih memiliki peluang memperoleh pendanaan besar. Efek lanjutannya bergantung pada seberapa banyak dana dibelanjakan di Indonesia, pekerjaan apa yang tercipta, serta produk mana yang benar-benar diperluas.

Saat ini, nilai investasi, identitas investor, porsi kepemilikan SBI, arah regional, dan rencana perekrutan domestik telah diketahui. Valuasi yang disepakati, struktur pembayaran, hak tata kelola, negara tujuan ekspansi, serta alokasi per lini usaha masih belum terbuka. Data itulah yang selanjutnya akan menentukan apakah transaksi ini menghasilkan ekspansi regional yang nyata atau terutama memperkuat operasi Ajaib di pasar asalnya.

Baca juga:

Bagikan:

Berlangganan buletin kami

Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.

0