Panduan Praktis

Standar AI sekolah melarang pelatihan dari data siswa—kontrak bisa mengikat

|Penulis: Tim Redaksi QUASA|5 mnt baca| 1
Standar AI sekolah melarang pelatihan dari data siswa—kontrak bisa mengikat

Dalam pengumuman bersama pada 9 September 2026 di New York, American Federation of Teachers (AFT), United Federation of Teachers (UFT), dan Microsoft meluncurkan National AI Safety & Privacy Standard for Schools. Perlindungan utamanya melarang data siswa dan pendidik digunakan untuk melatih model AI serta memungkinkan distrik sekolah di Amerika Serikat memasukkan ketentuan itu ke perjanjian Microsoft agar dapat ditegakkan secara kontraktual.

Liputan K-12 Dive menyebut perlindungan tersebut akan tersedia bagi seluruh distrik AS mulai 1 November 2026, tetapi tidak berlaku otomatis: distrik harus menambahkannya ke kontrak baru atau kontrak berjalan. Microsoft menjadi penyedia pertama yang menyetujui standar tersebut.

Larangan pelatihan juga mencakup data turunan

Petugas privasi sekolah memeriksa cakupan data siswa dan pemisahannya dari pelatihan model AI.

Memorandum 31 halaman dengan sepuluh prinsip menetapkan cakupan data, batas penghapusan hingga 180 hari, dan pemberitahuan kebocoran paling lambat 72 jam setelah penyedia mengetahui insiden yang terkonfirmasi atau patut diduga. Definisi data siswa mencakup antara lain identitas, nilai, catatan disiplin, prompt, keluaran terkait siswa, pola perilaku, identitas perangkat, lokasi, berkas memori, rekaman audio-visual, dan metadata.

Larangan pelatihan berlaku pula terhadap data yang telah diagregasi, ditransformasi, atau dihilangkan identitasnya, serta data sintetis yang bersumber dari data tercakup. Penyedia tidak boleh memakainya untuk melatih, melakukan fine-tuning, memperbarui, menguji tolok ukur, atau meningkatkan model.

Pengecualian keselamatan dibatasi pada pemrosesan minimum untuk mendeteksi, mencegah, menyelidiki, atau menangani bahaya dan ancaman keamanan. Data tersebut tidak boleh dipakai untuk peningkatan model generatif umum, personalisasi, profil pengguna, iklan, atau pengembangan yang tidak terkait; penyedia juga harus menyimpan catatan yang cukup untuk diaudit.

Sepuluh prinsip dapat diterjemahkan menjadi klausul kontrak

Tim pengadaan memetakan sepuluh prinsip standar AI sekolah ke klausul dan bukti kepatuhan vendor.

Bagi sekolah, label kepatuhan saja tidak cukup. Nilai operasional standar ini terletak pada kewajiban vendor, kontrol administrator, dan bukti yang dapat diperiksa. Pemetaan berikut dapat dipakai sebagai checklist adaptasi dalam pengadaan:

  • Pelatihan model: larang penggunaan data siswa, pendidik, keluaran, data turunan, serta data yang diproses afiliasi atau subprosesor untuk pelatihan di luar pengecualian keselamatan yang ditentukan.
  • Minimisasi: lampirkan kategori data yang benar-benar diperlukan dan larang geolokasi presisi, pencatatan ketikan, pemantauan perhatian, profil jangka panjang, serta biometrik tanpa persetujuan tertulis yang sesuai.
  • Kepemilikan: tetapkan bahwa prompt, respons, berkas, dan keluaran tetap berada dalam kendali sekolah atau penggunanya; batasi pemakaian vendor pada layanan yang dikontrak.
  • Pengawasan manusia: cegah AI mengambil keputusan tentang penilaian, disiplin, penempatan, atau evaluasi psikologis tanpa peninjauan manusia yang bermakna.
  • Akuntabilitas: tentukan bukti kepatuhan, proses perbaikan pelanggaran, hak penghentian layanan, dan upaya pemulihan kontraktual.
  • Keamanan: wajibkan kontrol akses, autentikasi yang memadai, pengujian keamanan independen, respons insiden, serta tanggung jawab penyedia atas subprosesor.
  • Transparansi dan persetujuan: tentukan informasi yang harus diterima keluarga, kanal pertanyaan, serta pembagian tanggung jawab untuk mencatat persetujuan orang tua ketika diwajibkan.
  • Kesetaraan dan aksesibilitas: minta hasil pengujian pada populasi pendidikan yang beragam, keterbatasan yang diketahui, dan prosedur penanganan bias atau kegagalan akses.
  • Kendali perubahan: wajibkan pemberitahuan ketika kategori data, tujuan pemrosesan, retensi, atau kewenangan agen berubah secara material.
  • Tanggung jawab setelah kontrak: atur ekspor, penghapusan, masa transisi, dan keberlanjutan larangan pelatihan serta penjualan data setelah layanan berakhir.

Memori, agen, audit, dan insiden memerlukan bukti operasional

Administrator memeriksa penghapusan memori, pembatasan tindakan agen, dan prosedur pemberitahuan insiden 72 jam.

Klausul penghapusan perlu membedakan sistem aktif dan cadangan. Setelah sekolah memulai penghapusan, vendor harus menghapus data secara permanen dari sistem aktif dalam batas kontraktual yang ditentukan; salinan cadangan harus dihapus atau dibuat tidak dapat dipulihkan secara komersial mengikuti siklus pemusnahan yang terdokumentasi. Retensi karena kewajiban hukum, legal hold, atau kebutuhan keselamatan yang sah harus dijelaskan secara terpisah.

Jika layanan memakai memori persisten, pengguna harus dapat melihat informasi yang disimpan, menghapusnya secara permanen, dan mematikan memori tanpa kehilangan akses ke layanan. Sekolah memerlukan kontrol administratif atau proses terdokumentasi untuk memeriksa kategori data, masa retensi, lokasi penyimpanan, subprosesor, dan hak akses.

Kemampuan agen yang dapat mengirim pesan, menyerahkan tugas, mengubah pengaturan, mengakses sistem pihak ketiga, atau melakukan pembelian perlu dinonaktifkan untuk akun siswa secara default. Pengaktifan seharusnya memerlukan persetujuan administrator, izin yang dibatasi, pengawasan manusia, dan catatan audit atas tindakan yang dijalankan.

Untuk insiden, kontrak perlu menetapkan kontak kedua pihak, isi pemberitahuan awal, pembaruan selama penyelidikan, penyimpanan bukti, serta kewajiban kerja sama vendor. Catatan audit harus memungkinkan sekolah menghubungkan tindakan sistem, perubahan konfigurasi, permintaan penghapusan, dan respons penyedia dengan kewajiban yang tertulis.

Di Indonesia, standar ini adalah referensi pengadaan

Daya ikat dokumen tersebut terbatas pada hubungan kontraktual yang dicakupnya. Definisi pelanggan pendidikan merujuk pada entitas di Amerika Serikat, sedangkan produk yang dicakup adalah layanan AI generatif yang terutama dirancang dan dipasarkan bagi siswa, pendidik, atau administrator serta digunakan secara terautentikasi berdasarkan perjanjian. Produk produktivitas, komunikasi, pencarian, cloud, pengembangan, atau bantuan kerja untuk tujuan umum tidak otomatis masuk cakupan.

Karena itu, sekolah Indonesia tidak dapat memperlakukan standar tersebut sebagai hukum atau sertifikasi nasional. Nilainya adalah sebagai pembanding saat menyusun kontrak vendor lokal: nama dan versi produk, lokasi pemrosesan, daftar subprosesor, tujuan penggunaan data, retensi, kontrol administrator, persetujuan orang tua, peninjauan manusia, bukti audit, tenggat insiden, dan urutan dokumen ketika ketentuan saling bertentangan perlu ditulis secara eksplisit serta diselaraskan dengan hukum Indonesia.

Pada 13 September 2026, yang telah terkonfirmasi adalah komitmen Microsoft dan jalur bagi distrik AS untuk mengadopsi perlindungan itu melalui kontrak. Hal yang masih perlu dipantau ialah distrik mana yang benar-benar mengadopsinya, produk dan versi apa yang dimasukkan dalam perjanjian, serta apakah penyedia AI lain ikut menandatangani standar.

Baca juga:

Bagikan:

Berlangganan buletin kami

Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.

0