Swift kembali mengamati semesta, tetapi waktunya tinggal hitungan bulan

NASA mengumumkan pada 28 Agustus 2026 bahwa Neil Gehrels Swift Observatory kembali menjalankan observasi ilmiah. Menurut pembaruan operasi NASA, Ultraviolet/Optical Telescope dan X-Ray Telescope dinyalakan pada 26 Agustus, sedangkan Burst Alert Telescope masih belum mengumpulkan data.
Swift kembali bekerja setelah rencana LINK untuk menangkap dan menaikkan orbitnya dibatalkan. Waktu yang tersisa memang tidak dapat ditentukan sebagai tanggal akhir yang pasti, tetapi tim misi memperkirakan observatorium akan mencapai ketinggian 300 kilometer—ambang yang menyulitkan operasi—dalam satu hingga dua bulan sejak observasi dilanjutkan.
Dua teleskop kembali aktif, BAT masih menunggu

Ultraviolet/Optical Telescope dan X-Ray Telescope sebelumnya dimatikan pada Februari 2026. Tujuannya bukan karena kedua instrumen rusak, melainkan untuk mengurangi hambatan atmosfer dan memperpanjang waktu Swift di orbit selama persiapan misi peningkatan ketinggian.
X-Ray Telescope langsung menghasilkan data setelah diaktifkan. Pada 26 Agustus, instrumen itu merekam sisa supernova Tycho di rasi Cassiopeia, sekitar 13.000 tahun cahaya dari Bumi; dalam citra yang dipublikasikan NASA, titik-titik putih menunjukkan foton sinar-X, sedangkan garis gelap merupakan artefak sistem pencitraan.
Instrumen ketiga, Burst Alert Telescope atau BAT, memiliki status berbeda. Penggunaannya dihentikan pada April untuk menghemat daya sehingga panel surya Swift dapat ditempatkan dalam orientasi yang mengurangi hambatan, dan tim misi menargetkan pengembalian instrumen itu ke pengumpulan data dalam beberapa pekan.
Karena BAT belum aktif, Swift belum kembali menggunakan seluruh kemampuan ilmiahnya. Observatorium ini membawa tiga instrumen yang secara bersama-sama mencakup cahaya tampak, ultraviolet, sinar-X, dan sinar gamma; BAT berperan penting dalam mendeteksi semburan sinar gamma sebelum Swift mengarahkan dua teleskop lainnya ke sumber tersebut.
Kegagalan LINK mengubah tujuan operasi

NASA memilih mode hambatan rendah untuk memberi LINK waktu mencapai Swift. Katalyst Space Technologies memperoleh kontrak pada September 2025 untuk merancang, membangun, menguji, meluncurkan, lalu menggunakan wahana robotik itu untuk menangkap Swift dan mendorongnya ke orbit yang lebih tinggi.
LINK diluncurkan pada 3 Juli 2026 dengan roket Northrop Grumman Pegasus XL, tetapi kemudian mengalami masalah pengendalian orientasi. laporan Associated Press tentang pembatalan penyelamatan mencatat bahwa NASA dan Katalyst menghentikan rencana penangkapan serta peningkatan orbit pada 19 Agustus karena wahana tidak dapat dikendalikan dengan ketepatan yang diperlukan.
LINK masih direncanakan melakukan rendezvous dan operasi jarak dekat untuk menguji teknologi pelayanan satelit, tetapi tidak akan menangkap Swift. Artinya, mempertahankan Swift dalam konfigurasi yang mengorbankan observasi ilmiah tidak lagi membuka jalan menuju penyelamatan orbit.
Pengaktifan kembali instrumen mengikuti perubahan tujuan tersebut. Tim misi kini mengutamakan data yang masih dapat dikumpulkan sebelum ketinggian Swift menjadi terlalu rendah untuk operasi yang efektif, meskipun orientasi observasi tidak mempertahankan keuntungan mode hambatan rendah sebelumnya.
Mengapa observasi terakhir tetap bernilai
Swift telah menjalankan operasi ilmiah selama lebih dari 21 tahun dan dirancang untuk menanggapi peristiwa astronomi yang berubah cepat. Observatorium dapat berputar menuju ledakan kosmik dalam waktu singkat, lalu mengirimkan peringatan kepada fasilitas lain di Bumi dan ruang angkasa agar pengamatan lanjutan dapat dilakukan.
Aktifnya kembali teleskop ultraviolet/optik dan sinar-X memungkinkan astronom mengukur sumber yang sama pada panjang gelombang berbeda. Pengamatan Tycho menunjukkan bahwa sedikitnya satu instrumen telah menghasilkan data ilmiah baru setelah masa penghentian operasi, bukan sekadar berhasil melewati pemeriksaan teknis.
Nilai itu tetap memiliki batas. Tanpa BAT, Swift untuk sementara kehilangan pemicu utama bagi rangkaian pengamatan cepat semburan sinar gamma, sedangkan pengaktifan kembali BAT belum dijamin sampai instrumen tersebut benar-benar mengirimkan data.
Keputusan meneruskan observasi karena itu bukan tanda bahwa ancaman terhadap misi telah berlalu. Swift masih dapat melakukan sains, tetapi tidak lagi memiliki jalur yang direncanakan untuk mempertahankan orbitnya; setiap pengamatan sekarang berlangsung dalam periode operasi yang makin sempit.
Satu hingga dua bulan bukan tanggal reentry

Atmosfer Bumi memberikan hambatan bahkan kepada wahana di orbit rendah. Swift tidak memiliki sistem propulsi untuk mengimbangi penurunan ketinggian, sementara aktivitas Matahari meningkatkan kepadatan atmosfer atas dan membuat orbit observatorium menyusut lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya.
Perkiraan satu hingga dua bulan merujuk pada waktu menuju ketinggian 300 kilometer, bukan waktu pasti Swift memasuki atmosfer. Di bawah ambang tersebut, pengoperasian teleskop menjadi sulit dan laju penurunan wahana meningkat, tetapi masih ada selang yang belum dapat dipastikan sebelum reentry.
NASA menyatakan melalui penjelasan reentry kepada Space.com bahwa Swift akan masuk atmosfer tanpa kendali dan kemungkinan tidak akan mengalaminya sebelum Oktober 2026. Waktunya bergantung pada sejumlah faktor, sedangkan lokasi jatuh belum dapat ditentukan.
Sebagian besar wahana diperkirakan terbakar di atmosfer, meskipun beberapa komponen mungkin bertahan; NASA menilai risiko terhadap manusia rendah. Status yang dapat dipastikan saat ini adalah dua instrumen telah kembali bekerja, BAT masih menunggu pengaktifan, LINK tidak akan menaikkan orbit Swift, dan pembaruan berikutnya diperlukan untuk mengetahui kapan penurunan ketinggian mulai membatasi observasi secara nyata.
Baca juga:
Berlangganan buletin kami
Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.