Starcloud mengantongi US$250 juta, tetapi bisnisnya bergantung pada roket

Rilis resmi Starcloud pada 21 Agustus 2026 menyatakan perusahaan asal Redmond, Washington, memperoleh tambahan Seri A sebesar US$250 juta pada valuasi pascapendanaan US$2,3 miliar. Manhattan West memimpin transaksi, sedangkan Nvidia, Cisco Investments, Benchmark, EQT dan investor lain ikut berpartisipasi.
Putaran tersebut membawa total modal yang dihimpun sejak Starcloud berdiri pada 2024 menjadi US$450 juta. Dana akan digunakan untuk memperbesar kapasitas manufaktur, melanjutkan pekerjaan rekayasa bersama Nvidia dan membeli alokasi peluncuran—penggunaan modal yang sekaligus memperlihatkan bahwa pusat data orbital tidak dapat berkembang tanpa kapasitas roket yang memadai.
Modal baru membiayai manufaktur dan akses ke orbit

Pendanaan ini memberi Starcloud sumber daya untuk memproduksi lebih banyak wahana, tetapi valuasinya masih mencerminkan harapan investor terhadap bisnis yang belum mencapai skala luas. Tambahan terbaru memperpanjang Seri A sebelumnya, bukan membuktikan bahwa biaya komputasi orbital sudah dapat menandingi pusat data di darat.
Posisi modal dan kebutuhan bisnis Starcloud dapat diringkas sebagai berikut:
- Modal baru: US$250 juta dalam perpanjangan Seri A.
- Total modal: US$450 juta sejak perusahaan berdiri.
- Valuasi: US$2,3 miliar setelah transaksi.
- Manufaktur: modal dialokasikan untuk memperbesar kapasitas produksi, termasuk pengembangan Starcloud-3.
- Rekayasa: perusahaan melanjutkan pekerjaan bersama Nvidia pada perangkat komputasi untuk lingkungan antariksa.
- Peluncuran: dana mencakup pengadaan alokasi penerbangan mendatang.
- Belum diungkapkan: nilai kontrak peluncuran, jumlah kapasitas yang sudah dipesan, biaya komputasi per unit dan pendapatan pelanggan.
Perbedaan antara angka pendanaan dan data yang belum tersedia itu penting. Starcloud dapat membiayai pabrik serta perangkat keras lebih dahulu, tetapi wahana yang selesai dibuat belum menjadi aset produktif sampai memperoleh jadwal peluncuran dan berhasil ditempatkan di orbit.
Kapasitas roket menjadi batas utama ekspansi

Laporan TechCrunch tentang kebutuhan peluncuran Starcloud merinci rencana menerbangkan dua satelit Starcloud-2 berdaya komputasi 8 kW melalui penerbangan rideshare pada 2027, kemungkinan membeli satu penerbangan khusus Falcon 9, serta keinginan mengamankan kontrak untuk kendaraan seperti Starship. CEO Philip Johnston juga mengakui bahwa ketiadaan kapasitas SpaceX yang dapat dipesan pada 2029 akan menyulitkan rencana perusahaan.
Starcloud-3 dirancang untuk memanfaatkan daya angkut Starship. Masalahnya, perhitungan bisnis perusahaan mengandalkan kemungkinan bahwa roket tersebut kelak dapat digunakan kembali dengan cepat, terbang cukup sering dan menurunkan ongkos pengiriman perangkat keras berat; pada saat putaran pendanaan berlangsung, ketiga kondisi itu belum menjadi layanan rutin yang dapat dibeli.
Ketergantungan tersebut berada di luar kendali langsung Starcloud. Modal ventura dapat membayar tenaga kerja, fasilitas, satelit dan uang muka peluncuran, tetapi tidak menentukan jadwal pengembangan roket pihak lain, jumlah slot yang tersedia atau harga akhirnya. Penundaan penerbangan dapat membuat perangkat menunggu di darat, sementara ongkos angkut yang tetap tinggi akan menaikkan biaya setiap unit komputasi di orbit.
Perusahaan memang dapat menyebarkan risiko dengan memakai lebih dari satu penyedia peluncuran. Namun, kendaraan berbeda memiliki kapasitas, jadwal dan persyaratan integrasi masing-masing; keberadaan beberapa calon roket tidak otomatis berarti Starcloud telah memperoleh angkutan yang sesuai untuk setiap generasi wahananya.
GPU sudah bekerja di orbit, ekonomi armada belum terbukti

Starcloud bukan lagi proyek yang hanya berada di atas kertas. Data Center Dynamics mencatat demonstrasi Starcloud-1 membawa GPU Nvidia H100 ke orbit pada November 2025 dan kemudian digunakan untuk inferensi, pelatihan serta pengoperasian NanoGPT; perusahaan juga menjalankan model Gemma pada wahana itu.
Demonstrasi tersebut membuktikan bahwa GPU kelas pusat data dapat dioperasikan di orbit, tetapi belum menjawab apakah armada besar dapat menghasilkan komputasi dengan biaya yang kompetitif. Wahana orbital harus mengelola radiasi, guncangan peluncuran, pasokan daya, pelepasan panas melalui radiator, komunikasi dengan Bumi dan risiko perangkat keras menjadi usang sebelum biaya penempatannya kembali.
Starcloud berpendapat bahwa energi surya dan pendinginan radiatif di orbit dapat mengurangi sebagian kendala energi, air dan lahan yang dihadapi pusat data darat. Klaim itu merupakan dasar strategi perusahaan, bukan hasil ekonomi yang sudah terukur secara publik. Keunggulan baru muncul apabila penghematan tersebut lebih besar daripada biaya pembuatan wahana, peluncuran, konektivitas, operasi dan kemungkinan kehilangan aset.
Data yang diperlukan untuk menguji perbandingan itu belum tersedia. Starcloud belum memublikasikan biaya komputasi per unit, tingkat pemanfaatan pelanggan, pendapatan orbital ataupun umur ekonomis perangkat dalam skala armada. Tanpa angka tersebut, valuasi perusahaan belum dapat dinilai menggunakan ukuran operasional yang lazim dipakai pada penyedia infrastruktur komputasi matang.
Valuasi tinggi kini menunggu bukti operasional
Pendanaan baru memperpanjang waktu yang dimiliki Starcloud untuk membangun fasilitas, menyempurnakan perangkat dan mengamankan penerbangan. Namun, modal itu tidak menghapus kesenjangan antara keberhasilan satu demonstrasi teknis dan operasi pusat data orbital dalam jumlah besar.
Tonggak berikutnya adalah realisasi peluncuran Starcloud-2, kemajuan produksi Starcloud-3 dan kontrak roket yang menunjukkan kapasitas, jadwal serta biaya secara lebih pasti. Setelah wahana berada di orbit, pasar masih memerlukan data mengenai kinerja, pemanfaatan pelanggan dan biaya komputasi untuk menilai apakah model tersebut dapat diperbesar.
Dengan demikian, risiko utama Starcloud bukan sekadar apakah GPU dapat menyala di antariksa—perusahaan sudah menunjukkan kemampuan itu. Pertanyaan yang belum terjawab adalah apakah roket tersedia cukup sering dan cukup murah untuk mengubah modal baru menjadi armada produktif sebelum perangkat kerasnya tertinggal atau kebutuhan kas berikutnya muncul.
Berlangganan buletin kami
Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.