Pekerja Inggris lebih takut ekonomi daripada AI—selisihnya tujuh poin

|Penulis: Tim Redaksi QUASA|5 mnt baca
Pekerja Inggris lebih takut ekonomi daripada AI—selisihnya tujuh poin

Dalam rilis PwC UK pada 29 September 2026, 44% dari 2.023 pekerja Inggris yang disurvei menilai gejolak ekonomi sebagai ancaman terbesar bagi keamanan kerja dalam tiga tahun mendatang, sementara 37% menunjuk AI yang mengambil alih lebih banyak tugas; selisihnya tujuh poin persentase. Temuan itu mengukur kekhawatiran responden tentang pekerjaan mereka, bukan jumlah posisi yang telah hilang. Bagi pekerja, ancaman ekonomi yang luas muncul bersamaan dengan tekanan yang sudah terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Ulasan Resultsense tentang survei yang sama mencatat 59% responden mengatakan biaya hidup telah memengaruhi pekerjaan mereka selama setahun terakhir, sedangkan hanya 35% menyatakan rumah tangganya dapat membayar seluruh tagihan dan masih menyisakan uang untuk tabungan atau kebutuhan tambahan. Kelelahan dan rasa jenuh disebut sebagai hambatan produktivitas oleh 29% responden, tekanan beban kerja oleh 28%, dan kekurangan keterampilan atau pelatihan oleh 13%. Rangkaian angka ini memisahkan rasa aman atas pekerjaan dari kesulitan menyelesaikan pekerjaan yang sedang dihadapi.

Biaya hidup ikut masuk ke hari kerja

Tekanan biaya hidup menghubungkan kekhawatiran ekonomi dengan pengalaman kerja yang langsung dirasakan. Di antara pekerja yang mengaku terdampak, sebagian melaporkan stres meningkat, bekerja lebih keras atau lebih lama, dan mempertimbangkan pindah pekerjaan. Ketiga tanggapan itu menunjukkan jalur yang berbeda: keadaan keuangan rumah tangga dapat memengaruhi kesejahteraan, waktu kerja, serta keputusan bertahan di sebuah perusahaan.

Ancaman terhadap keamanan kerja juga tidak hanya berarti kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan sebuah jabatan. Gejolak ekonomi dapat terasa melalui prospek usaha pemberi kerja, kemungkinan pengurangan posisi, atau kemampuan pekerja mencari pekerjaan lain ketika keadaan memburuk. Survei tersebut merekam penilaian pekerja terhadap masa depan, sehingga perbandingannya paling tepat dipahami sebagai urutan kekhawatiran pada saat mereka menjawab, bukan ramalan tentang penyebab PHK berikutnya.

Hambatan produktivitas berbeda dari kesenjangan keterampilan

Kelelahan dan beban kerja menonjol sebagai hambatan dalam pekerjaan saat ini, sementara kekurangan pelatihan menyangkut kesiapan menghadapi tugas yang berubah. Pembedaan ini penting karena solusi untuk masing-masing persoalan berada di tempat berbeda. Pekerja dapat menyebut tugas yang menyita waktu, tetapi manajer yang menetapkan prioritas dan pembagian pekerjaan; perusahaan pula yang menentukan apakah waktu belajar tersedia di tengah target harian.

Ada celah lain di balik keyakinan pekerja bahwa mereka mampu mempelajari keterampilan baru: tidak semua yang percaya diri merasa memiliki sumber belajar yang diperlukan, dan sebagian belum jelas tentang kemampuan yang akan dibutuhkan kelak. Akibatnya, pelatihan tidak cukup diukur dari keberadaan kursus. Kejelasan arah pekerjaan, akses yang merata, dan kesempatan memakai kemampuan baru menentukan apakah pembelajaran bisa membantu pekerja yang tugasnya berubah. Hubungan ini menjadi lebih mendesak ketika AI mulai dipakai dalam lebih banyak bagian pekerjaan.

AI memperbaiki hasil, tetapi bisa menambah beban

Dalam rilis PwC UK pada 1 Oktober 2026, Claire Reid, Chief Innovation and Technology Officer di perusahaan itu, meminta organisasi untuk “rethink how work gets done”. Dalam data yang sama, 19% pekerja Inggris memakai AI setiap hari dan 56% telah memakainya di tempat kerja selama setahun terakhir. Di antara pengguna AI, 70% merasa kualitas hasil kerjanya membaik, tetapi 44% melaporkan beban kerja bertambah dan 45% mengatakan perannya menjadi lebih rumit.

Perbandingan tersebut tidak berarti AI sendirian menyebabkan bertambahnya pekerjaan; survei mencatat pengalaman yang dilaporkan pengguna. Namun, kenaikan mutu hasil dan bertambahnya beban dapat hadir bersamaan. Sebuah tim mungkin menghasilkan lebih banyak pekerjaan atau menambahkan tahap pemeriksaan dan koordinasi setelah memakai alat baru. Untuk mengetahui apakah produktivitas benar-benar membaik, ukuran hasil perlu dibaca bersama waktu, tuntutan, dan tanggung jawab yang berpindah di antara anggota tim.

Pemakaian AI juga berbeda tajam menurut jenjang jabatan: para eksekutif senior dan manajer lebih sering menggunakannya daripada pekerja tanpa jabatan manajerial. Perbedaan itu penting ketika perusahaan menilai manfaat investasi teknologinya. Orang yang memilih alat dan menentukan target belum tentu mengalami perubahan tugas yang sama dengan orang yang mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Akses terhadap alat, kesempatan bereksperimen, dan wewenang mengubah alur kerja dapat menentukan apakah manfaatnya terasa di seluruh organisasi.

Tiga persoalan yang perlu dipisahkan di Indonesia

Angka dari Inggris tidak mengukur keadaan pekerja Indonesia, tetapi susunan pertanyaannya berguna sebagai pembanding bagi tim di sini. Risiko kehilangan pekerjaan, hambatan produktivitas, dan kebutuhan belajar sering dibicarakan seolah-olah mempunyai satu penyebab. Jika ketiganya dicampur, manajer bisa menawarkan pelatihan ketika masalah utamanya adalah beban kerja, atau menyebut efisiensi AI ketika pekerja justru mengkhawatirkan kestabilan penghasilan.

  • Keamanan kerja: apakah kekhawatiran utama berkaitan dengan keadaan ekonomi perusahaan, kemungkinan pengurangan posisi, atau pengalihan tugas ke AI? Pimpinan perusahaan perlu menjelaskan keputusan tenaga kerja dan arah perubahan tugas karena pekerja tidak dapat menyimpulkannya dari tingkat pemakaian alat.
  • Produktivitas: apakah hambatan yang paling terasa berupa kelelahan, volume pekerjaan, atau langkah tambahan sesudah AI digunakan? Pertanyaan ini berada dalam kendali manajer yang mengatur prioritas, kapasitas tim, dan pemeriksaan hasil.
  • Pelatihan: apakah pekerja tahu keterampilan yang akan diperlukan dan mempunyai waktu serta akses untuk mempelajarinya? Perusahaan menentukan kesempatan pengembangan, sedangkan pekerja dapat menjelaskan bagian pekerjaan yang kini berubah.

Keputusan perusahaan yang paling menentukan muncul sesudah alat AI dipakai: siapa menanggung pemeriksaan hasil, pekerjaan mana yang dihentikan, dan kapan pekerja dapat belajar dalam jam kerja. Jika pertanyaan itu dibiarkan tanpa jawaban, kualitas keluaran dapat meningkat bersamaan dengan kelelahan yang menghambat produktivitas.

Baca juga:

Bagikan:

Berlangganan buletin kami

Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.

0