
Ekonomi digital RI menuju US$130 miliar, adopsi AI masih bertahap

Dalam laporan ANTARA pada 30 Oktober 2026, proyeksi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kembali menempatkan nilai ekonomi digital Indonesia menuju US$130 miliar pada 2026; laporan itu juga mencatat 74% bisnis responden survei UOB telah memakai AI. Angka pasar tersebut masih berupa perkiraan nilai ekonomi nasional, sedangkan angka adopsi menunjukkan jawaban kelompok perusahaan yang disurvei, bukan kesiapan semua bisnis untuk menerapkan AI secara mendalam.
Sehari sebelum laporan itu terbit, liputan BRIEF tentang forum di Jakarta mencatat bahwa CAA Telco dan Sprinklr memperkenalkan kemitraan pengelolaan interaksi pelanggan di Hotel Pullman Thamrin pada 29 Oktober 2026; Direktur CAA Telco Arief Hidajat menyebut kebutuhan mengubah informasi pelanggan menjadi “wawasan yang dapat ditindaklanjuti”. Pertemuan itu memberi contoh kebutuhan yang sedang ditawarkan penyedia teknologi, tetapi ukurannya tetap perlu dibedakan dari proyeksi seluruh ekonomi digital.
Proyeksi pasar mencakup kegiatan yang lebih luas
Nilai ekonomi digital nasional menggambarkan skala kegiatan yang diperkirakan terjadi melalui berbagai layanan dan transaksi digital. Angka tersebut tidak sama dengan belanja perusahaan untuk perangkat AI, pendapatan penyedia teknologi, atau nilai kontrak yang bisa segera dimenangkan startup. Perbedaan satuan ini menentukan cara membaca peluang: pasar yang besar menyediakan konteks permintaan, tetapi belum menunjukkan berapa banyak pelanggan yang siap membayar untuk satu jenis solusi.
Proyeksi yang kembali muncul dalam pemberitaan itu telah beredar sebelum forum bisnis berlangsung. Karena itu, hal baru yang dibahas adalah pertemuan antara gambaran pasar dan contoh kebutuhan perusahaan dalam mengelola data pelanggan, bukan pengukuran baru atas transaksi digital. Menafsirkan angka proyeksi sebagai hasil yang sudah tercapai akan membuat pertumbuhan tampak lebih pasti daripada status datanya.
Hubungan antara perluasan ekonomi digital dan kebutuhan AI masuk akal pada tingkat operasional: lebih banyak interaksi digital dapat menghasilkan lebih banyak informasi pelanggan yang harus diolah. Namun, hubungan itu tidak berarti kenaikan nilai pasar otomatis menjadi kenaikan pengeluaran AI dalam proporsi yang sama. Sebagian kegiatan digital dapat berkembang dengan teknologi yang sudah dipakai, sementara sebagian perusahaan masih perlu menyiapkan sistem sebelum membeli kemampuan tambahan.
Adopsi tinggi belum berarti penerapan lanjut

Dalam UOB Business Outlook Study untuk Indonesia, survei daring pada Januari 2026 terhadap 272 pemilik dan eksekutif usaha kecil serta menengah mendapati 74% responden telah mengadopsi AI, sekitar separuh masih pada tahap awal, 26% berada pada tahap lanjut, dan 90% berencana menaikkan anggaran AI. Temuan ini menggambarkan responden survei, sehingga tidak dapat dipakai sebagai sensus seluruh pelaku usaha Indonesia.
Selisih antara tingkat adopsi dan tingkat penerapan lanjut mencapai 48 poin persentase. Perhitungan sederhana dari dua persentase survei itu memperlihatkan bahwa keputusan mulai memakai AI jauh lebih umum daripada kemampuan menjalankannya secara matang. Sebuah perusahaan bisa menggunakan AI untuk satu tugas sambil tetap mengandalkan proses manual pada pekerjaan lain; label “sudah mengadopsi” tidak menjelaskan kedalaman integrasi tersebut.
Perusahaan yang telah mendigitalisasi seluruh operasinya lebih sering berada pada tahap AI lanjut dibandingkan rata-rata responden. Pola tersebut memberi petunjuk tentang peran fondasi digital, meski tidak membuktikan bahwa digitalisasi saja menyebabkan hasil yang lebih baik. Di kelompok pengguna AI, perbaikan produktivitas, pendapatan, dan kepuasan pelanggan muncul dalam jawaban responden, bukan sebagai jaminan hasil bagi perusahaan yang baru memulai.
Data, biaya, dan kemampuan tim membatasi laju

Hambatan responden Indonesia mencakup kesiapan data dan sistem, keterbatasan dana, serta kekurangan talenta dan kemampuan, terutama pada usaha kecil. Ketiganya bekerja pada tahap yang berbeda: data menentukan informasi yang dapat dipakai, anggaran menentukan ruang untuk membangun dan memelihara penerapan, sedangkan kemampuan tim menentukan apakah keluaran AI dapat dinilai dan digunakan dalam keputusan bisnis.
Masalah data tidak selesai hanya dengan menambah fitur. Interaksi pelanggan dapat tersebar di media sosial, kanal layanan, dan sistem transaksi; menyatukannya menuntut definisi pelanggan, akses, serta alur kerja yang konsisten. Bila informasi tetap terpisah, teknologi yang mampu menganalisis satu kanal belum tentu memahami perjalanan pelanggan secara utuh. Ini membantu menjelaskan mengapa pemasok yang menawarkan integrasi lintas kanal menjadikan fragmentasi informasi sebagai persoalan utama.
Biaya penerapan juga lebih luas daripada biaya memakai sebuah layanan. Perusahaan perlu mengalokasikan waktu untuk menyiapkan data, menghubungkan sistem, menyesuaikan proses, dan melatih orang yang akan memakai hasilnya. Ini adalah konsekuensi operasional dari hambatan dalam survei, bukan perkiraan nilai belanja rata-rata perusahaan. Keinginan menaikkan anggaran menunjukkan niat berinvestasi, sementara kemampuan mengeksekusinya tetap bergantung pada kondisi awal masing-masing usaha.
Kemitraan di Jakarta menunjukkan bentuk permintaan
Kerja sama CAA Telco dan Sprinklr berfokus pada pengelolaan pengalaman pelanggan yang menggabungkan sinyal dari media sosial dan kanal digital lain. Kebutuhan yang dijelaskan di forum itu spesifik: organisasi ingin mengubah percakapan yang tersebar menjadi informasi yang dapat dipakai untuk layanan dan keputusan bisnis. Bagi penyedia solusi, peluangnya terletak pada pekerjaan integrasi dan penggunaan informasi tersebut, bukan pada klaim bahwa seluruh nilai ekonomi digital akan menjadi pasar perangkat AI.
Skala perusahaan juga memengaruhi kecepatan penerapan. Pelaku usaha yang sistemnya telah saling terhubung memiliki titik awal berbeda dari usaha kecil yang masih menyimpan informasi pelanggan di beberapa saluran terpisah. Karena itu, pertumbuhan pasar nasional dapat berjalan bersamaan dengan penerapan AI yang tidak merata. Perbedaan kesiapan ini akan menentukan apakah rencana anggaran perusahaan berubah menjadi penggunaan yang bertahan atau berhenti pada percobaan terbatas.
Baca juga:
Artikel terkait


AS menggandeng perusahaan teknologi untuk mengukur dampak AI pada pekerjaan

Pekerja Inggris lebih takut ekonomi daripada AI—selisihnya tujuh poin

ROI agen AI rata-rata delapan bulan—bukan jaminan balik modal

Forum AS–Indonesia membidik hambatan investasi AI—arus data ikut diperdebatkan

Enam startup TIK mendapat panggung industri—akses pembeli jadi ujian berikutnya
Berlangganan buletin kami
Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.