Google Forms atau Microsoft Forms: alur kerja menentukan pilihan

|Penulis: Tim Redaksi QUASA|5 mnt baca
Google Forms atau Microsoft Forms: alur kerja menentukan pilihan

Jika respons akan menjadi bahan kerja di Google Sheets, Google Forms biasanya memberi jalur paling langsung. Panduan penyimpanan respons Google menjelaskan bahwa pembuat formulir dapat menghubungkan jawaban ke spreadsheet baru atau yang sudah ada. Jika tim mengolah hasil di Excel, Microsoft Forms lebih sesuai; penjelasan Microsoft Forms mencakup ekspor hasil ke Excel, analitik bawaan, kuis, dan kolaborasi.

Untuk survei publik, keduanya dapat dipakai. Keputusan yang lebih menentukan ialah siapa yang boleh mengisi, siapa yang mengolah jawaban, dan apa yang terjadi setelah respons masuk. Dalam tim yang memakai Google Workspace sekaligus Microsoft 365, kemudahan membuat pertanyaan bisa kalah penting dari pekerjaan memindahkan hasil ke tempat yang dipakai rekan lain.

Matriks keputusan berdasarkan pekerjaan setelah pengiriman

  • Formulir publik: pilih berdasarkan tempat panitia mengolah pendaftaran atau survei. Google Forms cocok bila rekap dikerjakan di Sheets; Microsoft Forms tetap layak untuk audiens luar bila pengaturan responsnya dibuka dan pekerjaan berikutnya berlangsung di lingkungan Microsoft.
  • Kuis sekolah: gunakan lingkungan tempat guru membagikan tugas, memeriksa jawaban, dan menyimpan rekap. Alur kelas di layanan Google cenderung mengarah ke Google Forms; pekerjaan yang terpusat di Teams dan Excel cenderung mengarah ke Microsoft Forms.
  • Kolaborasi penyunting: pertimbangkan siapa yang perlu mengubah pertanyaan dan siapa yang boleh membaca jawaban. Akses untuk mengisi formulir berbeda dari akses untuk menyuntingnya.
  • Tindak lanjut otomatis: Microsoft Forms lebih masuk akal bila proses organisasi sudah berjalan di Power Automate. Google Forms lebih praktis bila pekerjaan lanjutan memang dimulai dari spreadsheet Google.

Pilihan tersebut tidak harus seragam untuk seluruh organisasi. Sekolah dapat memakai satu layanan untuk kuis internal dan layanan lain untuk pendaftaran kegiatan yang dikelola panitia berbeda. Yang perlu konsisten adalah tempat tim menemukan data kerja terbaru dan aturan aksesnya, bukan merek setiap formulir yang diterbitkan.

Survei publik: akses responden menjadi syarat awal

Formulir yang ditujukan kepada orang tua murid, pelanggan, atau warga perlu dapat dibuka oleh mereka sebelum perbedaan analitik menjadi relevan. Petunjuk publikasi Google Forms menyatakan bahwa formulir harus dipublikasikan agar responden dapat mengaksesnya; pembuatnya dapat memberi akses kepada siapa saja yang memiliki tautan. Jika pembuat membatasi pengisian menjadi satu respons per orang, responden harus masuk ke Akun Google.

Microsoft Forms juga dapat menerima jawaban dari luar organisasi. Pengaturan responden Microsoft Forms membedakan pilihan siapa saja dapat menjawab, anggota organisasi, dan orang tertentu di dalam organisasi. Untuk survei terbuka, pilihan pertama harus sesuai dengan audiens yang dituju; pengaturan khusus organisasi akan menolak orang luar meskipun mereka menerima tautannya.

Sesudah akses dipastikan, ikuti lokasi kerja panitia. Bila daftar peserta dibersihkan dan dibagikan melalui Sheets, menghubungkan Google Forms ke spreadsheet itu menghindari ekspor berulang. Bila tindak lanjut dilakukan oleh staf yang bekerja di Microsoft 365, menggunakan Microsoft Forms dapat mengurangi perpindahan hasil. Ini adalah penilaian atas alur kerja, bukan ukuran bahwa salah satu layanan menghasilkan jawaban survei yang lebih baik.

Kuis sekolah: tempat memeriksa hasil lebih penting daripada tampilan soal

Kedua layanan menyediakan kuis, sehingga keputusan sekolah sebaiknya mengikuti pekerjaan guru setelah siswa mengirim jawaban. Di lingkungan Google, respons dapat ditinjau dalam formulir dan diteruskan ke Sheets untuk pengolahan bersama. Di lingkungan Microsoft, guru dapat melihat hasil saat respons masuk, memakai analitik bawaan, atau membawa hasil ke Excel. Manfaatnya bergantung pada tempat rekap nilai dan koordinasi pengajar memang dilakukan.

Identitas responden perlu dipikirkan bersama tujuan kuis. Survei pendapat kelas mungkin dapat menerima jawaban tanpa nama, sedangkan penilaian siswa memerlukan cara yang jelas untuk mengaitkan jawaban dengan peserta. Pengaturan akses yang cocok bagi formulir publik belum tentu cocok bagi kuis yang harus dikerjakan oleh siswa tertentu. Bila sekolah menggunakan dua ekosistem, pilih tempat guru paling mudah membagikan kuis dan memeriksa hasilnya tanpa membuat salinan rekap yang segera tertinggal dari respons terbaru.

Kolaborasi: penyunting formulir juga berurusan dengan data jawaban

Membagikan tautan pengisian kepada responden berbeda dari mengundang rekan untuk menyunting pertanyaan. Kedua layanan mendukung kerja bersama pada formulir. Karena itu, tim perlu menentukan pemilik formulir, orang yang boleh memperbaiki pertanyaan, dan orang yang hanya membutuhkan hasil. Keputusan ini terasa kecil saat survei disusun, tetapi menjadi penting ketika jawaban mulai memuat informasi yang hanya boleh ditangani sebagian anggota tim.

Pada Google Forms, respons yang disimpan di Sheets menjadi berkas terpisah. Saat spreadsheet respons baru dibuat, kolaborator formulir mendapat akses ke berkas tersebut; perubahan izin pada formulir berikutnya tidak otomatis menyelaraskan izin spreadsheet. Jika seorang penyunting keluar dari proyek, akses ke formulir dan ke Sheets perlu dinilai sebagai dua hal. Di sisi Microsoft, kolaborasi dan pembacaan hasil juga perlu direncanakan sebelum tautan kerja dibagikan kepada seluruh tim.

Ekspor hasil kepada rekan memberi mereka salinan untuk dianalisis. Salinan itu berguna untuk pekerjaan yang sudah selesai, tetapi survei yang masih menerima jawaban membutuhkan tempat rujukan yang jelas. Jika sebagian staf memakai salinan lama sementara yang lain melihat respons terbaru, perbedaan jumlah jawaban dapat berasal dari waktu pengambilan data, bukan dari kesalahan formulir. Menentukan satu lokasi rekap utama membantu tim campuran menghindari kebingungan tersebut.

Otomasi: nilai jalur dari respons ke tindakan

Bila jawaban harus memulai tindak lanjut, integrasi dapat lebih berharga daripada pilihan tampilan atau banyaknya jenis pertanyaan. Dokumentasi Power Automate untuk Forms menjelaskan pemicu ketika respons baru dikirim dan tindakan untuk mengambil rincian respons. Rincian itu dapat dipakai pada langkah berikutnya dalam alur kerja, misalnya pemberitahuan kepada petugas yang menangani pengajuan.

Google Forms memberi titik awal yang berbeda: respons dapat disimpan di Sheets, lalu spreadsheet tersebut menjadi tempat tim memilah, menganalisis, atau menyiapkan pekerjaan lanjutan. Namun tautan ke spreadsheet sendiri belum menyelesaikan kebutuhan seperti meneruskan jawaban tertentu kepada penanggung jawab atau memperbarui catatan di layanan lain. Kebutuhan itu tetap memerlukan rancangan proses dan alat yang sesuai.

Untuk organisasi yang sudah menjalankan tindak lanjut di Power Automate, Microsoft Forms mengurangi kebutuhan membawa respons ke ekosistem lain sebelum proses dimulai. Jika hasil terutama dikerjakan bersama di Sheets, Google Forms memberi titik kerja yang lebih dekat. Pilihan akhirnya ditentukan oleh tujuan respons yang paling sering dipakai: spreadsheet untuk analisis, atau rangkaian tindakan yang dimulai setiap kali jawaban baru masuk.

Baca juga:

Bagikan:

Berlangganan buletin kami

Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.

0