
PER atau PBV: laba tipis dan aset besar mengubah rasio yang berguna

PER lebih berguna ketika laba perusahaan cukup stabil dan mewakili kemampuan menghasilkan keuntungan. Saat laba sangat tipis atau berubah menjadi rugi, PBV dapat memberi pembanding jika ekuitas masih positif dan nilainya layak dipercaya. Materi valuasi CFA Institute menjelaskan bahwa laba per saham dapat bergejolak atau negatif, sedangkan nilai buku dapat terdistorsi oleh akuntansi.
Aset yang besar sendiri tidak membuat PBV otomatis lebih baik. Liabilitas mengurangi bagian aset yang menjadi hak pemegang saham, sementara aset tercatat belum tentu menghasilkan laba yang memadai. Karena itu, perbandingan PER dan PBV perlu menempatkan emiten dalam sektor dan model bisnis yang sejenis, lalu menghubungkan harga dengan laba, ekuitas, serta risiko di balik keduanya.
Rumusnya menjawab dua pertanyaan berbeda
PER adalah harga saham dibagi laba per saham atau EPS. Rasio ini menunjukkan harga yang dibayar pasar untuk setiap satuan laba yang menjadi bagian satu saham. Panduan laporan keuangan SEC menempatkan EPS dalam laporan laba rugi dan menjelaskan bahwa laporan tersebut mengukur hasil selama suatu periode, sedangkan neraca menunjukkan aset, liabilitas, dan ekuitas pada satu tanggal.
PBV adalah harga saham dibagi nilai buku per saham. Nilai buku per saham berasal dari ekuitas yang menjadi hak pemegang saham biasa, dibagi jumlah saham yang beredar. Ekuitas merupakan aset dikurangi liabilitas: armada kendaraan yang besar, misalnya, dapat menyisakan nilai buku kecil apabila sebagian besar aset dibiayai oleh kewajiban.
Periode penyebut kedua rasio juga berbeda. PER memakai laba selama rentang waktu tertentu, misalnya satu tahun buku, sedangkan PBV memakai posisi ekuitas pada tanggal neraca. Dua PER hanya sebanding bila dasar periode laba dan EPS-nya sama; untuk PBV, tanggal neraca serta dasar jumlah saham perlu konsisten. Harga pasar dapat berubah setiap hari, sehingga selisih waktu antara harga dan laporan keuangan tetap perlu diperhatikan.
Contoh: PBV lebih rendah, tetapi PER lebih tinggi
Misalkan dua operator armada truk hipotetis memiliki model usaha yang sama. Masing-masing mempunyai 100 juta saham, harga Rp1.000 per saham, dan aset Rp300 miliar pada akhir tahun. Perusahaan A mencatat liabilitas Rp200 miliar dan laba bersih Rp2 miliar, sedangkan perusahaan B mencatat liabilitas Rp250 miliar dan laba bersih Rp5 miliar. Semua angka ini hanya untuk menunjukkan cara kerja rasio, bukan data emiten.
Ekuitas A adalah Rp100 miliar atau Rp1.000 per saham. PBV-nya 1 kali, tetapi EPS Rp20 membuat PER-nya 50 kali. Ekuitas B tinggal Rp50 miliar atau Rp500 per saham; PBV-nya 2 kali, sementara EPS Rp50 menghasilkan PER 20 kali. Dengan harga saham yang sama, A tampak lebih murah terhadap nilai buku, sedangkan B tampak lebih murah terhadap laba.
Perbedaan itu muncul dari hubungan antara laba dan ekuitas. A memiliki bantalan ekuitas lebih besar, tetapi menghasilkan laba lebih kecil; B menghasilkan laba lebih besar di atas bantalan ekuitas yang lebih sempit. Liabilitas B juga lebih tinggi walaupun total aset kedua perusahaan sama. PBV A yang rendah baru menarik jika asetnya bernilai dan mampu menghasilkan imbal hasil yang layak; PER B yang rendah perlu dibaca bersama keberulangan laba dan kemampuan memenuhi kewajibannya.
Ketika laba mendekati nol atau menjadi negatif
PER mudah melonjak saat EPS mendekati nol: penyebut yang kecil membuat hasil pembagian besar meskipun harga saham tidak berubah. Angka itu menggambarkan laba saat ini yang tipis, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan apakah pelemahan tersebut sementara atau menetap. Jika EPS negatif, hasil pembagian juga negatif secara aritmetis; mengurutkan PER negatif bersama PER positif tidak menghasilkan peringkat murah dan mahal yang bermakna.
Uraian Aswath Damodaran tentang PBV menyebut nilai buku dapat menjadi pembanding bagi perusahaan yang merugi, tetapi kerugian berkepanjangan dapat mengikis ekuitas hingga negatif. Dalam keadaan terakhir, PBV negatif juga tidak layak dipakai untuk mengurutkan valuasi. PBV yang masih positif memberi sudut pandang terhadap aset bersih, bukan jaminan bahwa rugi akan berhenti atau nilai aset dapat diperoleh kembali melalui penjualan.
Untuk perusahaan yang labanya sedang tertekan, riwayat laba beberapa periode membantu membedakan penurunan sementara dari kemampuan menghasilkan laba yang memang melemah. Laba satu periode dapat pula terpengaruh beban atau keuntungan yang tidak berulang. Perbandingan dengan emiten sejenis menjadi lebih masuk akal ketika perubahan laba itu dijelaskan, alih-alih langsung menganggap PER yang tinggi sebagai harga yang terlalu mahal.
Bank dan usaha beraset fisik menuntut pemeriksaan yang berbeda
PBV sering dipakai untuk bank karena neraca dan ekuitasnya penting dalam penilaian. Kajian CFA Institute tentang bank mengaitkan PBV dengan penurunan nilai kredit, profitabilitas, dan risiko: kualitas pinjaman dapat memengaruhi harga pasar sekaligus nilai buku ekuitas. PBV bank yang rendah karenanya perlu dibaca bersama mutu kredit, imbal hasil atas ekuitas atau ROE, dan kecukupan modal.
Dua bank dengan PBV berbeda mungkin memiliki prospek laba atau risiko kredit yang berbeda pula. ROE yang tinggi dapat mendukung PBV lebih tinggi, tetapi ROE juga dapat terdorong ketika ekuitas relatif kecil terhadap aset. Kewajiban bank merupakan bagian dari model bisnisnya, sehingga perbandingannya perlu dilakukan dengan bank lain dan ukuran risiko perbankan yang relevan.
Pada operator transportasi atau usaha lain yang mengandalkan aset fisik, PBV menunjukkan harga saham relatif terhadap ekuitas tercatat. Nilai buku kendaraan dan peralatan dipengaruhi biaya perolehan, penyusutan, serta kemungkinan penurunan nilai. Kemampuan aset itu menghasilkan pendapatan atau dijual pada harga tertentu bisa berbeda dari angka neraca. Selisih antara harga pasar saham dan nilai buku baru bermakna jika produktivitas serta kondisi aset dipahami.
Aset tak berwujud dapat membuat kedua rasio tampak mahal
Pada bisnis yang banyak membangun produk, merek, atau pengetahuan, nilai buku mungkin tidak mencakup seluruh sumber laba masa depan. Analisis CFA Institute tentang aset tak berwujud menjelaskan bahwa pengeluaran tertentu untuk membangunnya dibebankan ketika terjadi, sehingga laba dan nilai buku yang dilaporkan dapat sama-sama lebih rendah. Akibatnya, PER dan PBV dapat tampak lebih tinggi tanpa perubahan harga saham.
Perlakuan itu tidak berarti setiap perusahaan dengan PBV tinggi memiliki aset tersembunyi yang berharga. Belanja pengembangan dapat gagal menghasilkan keuntungan, sedangkan sebagian aset tak berwujud yang diperoleh melalui akuisisi justru tercatat di neraca. Pembanding dalam sektor yang sama perlu memiliki pola pengeluaran dan perlakuan akuntansi yang cukup mirip. Jika tidak, perbedaan PBV dapat mencerminkan perbedaan pencatatan, bukan semata perbedaan harga yang dibayar investor.
Membandingkan valuasi dalam sektor yang sama
Untuk dua emiten yang laba positifnya relatif stabil, PER menghubungkan harga dengan hasil usaha yang sedang dinikmati pemegang saham. Perbedaan PER tetap perlu dihubungkan dengan pertumbuhan, ketahanan laba, dan risiko. Jika salah satu emiten merugi, PER-nya keluar dari perbandingan tersebut; PBV dapat membantu selama ekuitas positif dan isi neracanya cukup dapat dibandingkan.
PBV paling informatif ketika nilai buku memang berkaitan erat dengan aset yang menghasilkan laba. Bacalah bersama ROE dan liabilitas: PBV rendah dengan ROE yang terus lemah membawa arti berbeda dari PBV rendah pada usaha yang masih menghasilkan laba kuat. Pada bisnis dengan aset tak berwujud besar, perlakuan akuntansi dan kemampuan pengeluaran menghasilkan laba serta arus kas menjadi pembeda penting. Satu rasio merangkum hubungan harga dengan satu penyebut; alasan di balik penyebut itulah yang menentukan kegunaannya.
Baca juga:
Artikel terkait


Agilent membeli Proscia hingga US$270 juta—AI patologi masuk portofolio inti

Workday membeli C1.ai—identitas agen AI menjadi lapisan kendali baru

ORI atau SBR: kupon tetap menukar perlindungan saat bunga naik

IHSG jatuh 6,96%—tetapi 1,03 juta investor baru tetap masuk

DCA atau lump sum: dana siap belum berarti harus masuk sekaligus
Berlangganan buletin kami
Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.