
Koridor kreatif AI Indonesia dan India dibuka tanpa rincian pembagian hak

Indonesia–India Creative Tech Corridor diluncurkan pada 24 Oktober 2026 di Cinepolis Lippo Mall Nusantara, Jakarta. Peluncuran itu ditandai nota kesepahaman antara Lokanima di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari dan mitra industri dari kedua negara. Kerja sama sudah diumumkan, sedangkan aturan pembagian hak atas karya dan pendapatan kreator belum dipaparkan.
Koridor tersebut menghubungkan talenta dan kekayaan intelektual (IP) Indonesia dengan teknologi serta kemampuan produksi audiovisual India. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut tujuannya sebagai “kemitraan konkret yang menciptakan peluang ekonomi yang bermakna”. Bagi kreator, yang tersedia saat ini adalah kerangka kolaborasi dan rencana ruang uji AI; belum ada ketentuan terbuka tentang cara bergabung atau memperoleh bagian dari hasil komersial.
Siapa yang masuk dalam kesepakatan
Lokanima menjadi simpul kerja sama di KEK Singhasari, Jawa Timur, sementara seremoni peluncuran berlangsung di Jakarta. Di antara pihak yang terlibat dalam penandatanganan adalah kreator IP Fun Cican, Wahyu Aditya, serta Prodigi AI, LPP TVRI, Cinepolis, Xelta dari MatchBest Group, Galleri5 India, dan Collective Studios dari Collective Artists Network. Daftar ini mempertemukan pemilik karakter, pelaku AI, penyiar, jaringan bioskop, dan perusahaan hiburan India dalam satu inisiatif. Namun, keberadaan sebuah nama di daftar mitra belum menjelaskan tugas produksi atau hak distribusi yang akan dipegangnya.
Ruang lingkup nota kesepahaman mencakup pengembangan teknologi kreatif, pemanfaatan AI, penciptaan IP, serta distribusi konten audiovisual ke pasar internasional. Urutannya penting bagi pemilik karya: cerita atau karakter dapat masuk pada tahap pengembangan, berubah selama produksi, lalu dipasarkan dalam format dan wilayah yang berbeda. Setiap perpindahan tahap dapat melibatkan pihak yang berlainan, sehingga nilai sebuah proyek bergantung pada pengaturan yang lebih rinci daripada nama para mitra saja.
Keikutsertaan Wahyu Aditya sebagai kreator Fun Cican menunjukkan bahwa pemilik IP karakter Indonesia masuk dalam jejaring ini. Hal itu belum menetapkan Fun Cican sebagai judul produksi perdana. Demikian pula, kehadiran Cinepolis dan TVRI menunjukkan keterlibatan pihak yang bergerak di penayangan dan penyiaran, tetapi belum menetapkan saluran tayang untuk karya tertentu. Nota kesepahaman membuka kemungkinan kerja bersama; keputusan mengenai judul, pembiayaan, dan penjualan karya masih memerlukan kesepakatan proyek.
Apa fungsi Creative Tech Sandbox di Singhasari

Creative Tech Sandbox dibentuk di KEK Singhasari sebagai ruang uji bagi kreator dan pelaku industri untuk mengeksplorasi AI serta teknologi baru. Dalam konteks koridor ini, pengujian dapat berkaitan dengan pengembangan karya dan proses produksi audiovisual, dua bidang yang masuk dalam cakupan kerja sama. Pengumuman belum merinci perangkat yang akan digunakan, siapa pengelolanya, ataupun apakah peserta dari luar daftar mitra bisa masuk. Pembentukan sandbox juga belum disertai informasi pendaftaran terbuka.
Pemerintah mengaitkan kolaborasi dengan peningkatan efisiensi produksi dan perlindungan hak cipta. Keduanya adalah tujuan; hasil terukur dari sandbox belum disampaikan. Agar tujuan perlindungan punya arti bagi pemilik karakter atau naskah, ketentuan proyek perlu menjelaskan bahan apa yang boleh dipakai untuk uji AI, siapa yang mengizinkan pemakaiannya, dan apakah materi itu dapat dipakai lagi setelah percobaan. Tanpa ketentuan tersebut, nilai ekonomi dari eksperimen dan posisi pencipta karya asal belum bisa dihitung.
Ruang uji juga memiliki batas yang berbeda dari produksi penuh. Sebuah konsep dapat diuji tanpa langsung menjadi film, serial, atau lisensi yang dipasarkan; tahap produksi kemudian memerlukan keputusan mengenai biaya, penyelesaian karya, dan pihak yang bertanggung jawab. Kreator yang tertarik pada koridor ini masih membutuhkan informasi tentang jalur partisipasi dan kriteria pemilihan proyek, selain gambaran teknologi yang akan dicoba.
WAVES menjadi sasaran karya bersama

Para mitra menargetkan penampilan perdana karya bersama pada World Audio Visual and Entertainment Summit (WAVES) 2027 di Mumbai, India. Laporan ETCIOSEA tentang sasaran itu juga mencatat belum adanya angka investasi, nama proyek, atau jadwal operasional sandbox dalam pengumuman. Target acara memberi arah bagi produksi lintas negara, tetapi belum menunjukkan bahwa suatu karya telah rampung atau memperoleh kontrak penayangan.
Untuk sampai ke panggung itu, mitra perlu memilih materi Indonesia yang akan dikembangkan, menentukan bentuk kolaborasi produksi dengan pihak India, lalu menyelesaikan karya yang dapat ditampilkan. Tahapan tersebut merupakan konsekuensi praktis dari sasaran yang diumumkan, bukan jadwal resmi yang sudah dipublikasikan. Tanpa judul proyek dan anggaran, belum ada dasar untuk menaksir jumlah kreator yang terlibat atau berapa biaya yang akan ditanggung masing-masing pihak.
Pertanyaan komersial yang paling dekat dengan kreator adalah siapa tetap memiliki IP awal, siapa memegang hak atas versi yang diolah bersama AI, dan siapa dapat melisensikan hasilnya sesudah penampilan perdana. Sama pentingnya adalah siapa membayar produksi, bagaimana penerimaan dari penayangan atau lisensi dibagi, serta apakah penggunaan materi kreator untuk uji teknologi memerlukan izin terpisah. Jawabannya akan menentukan apakah perluasan akses pasar juga menghasilkan pendapatan bagi pencipta Indonesia. Sampai rincian proyek dan ketentuan partisipasi diterbitkan, manfaat itu masih berupa kemungkinan.
Perkembangan berikut yang akan memperjelas nilai koridor adalah pengumuman peserta sandbox, proyek yang dipilih untuk WAVES, dan kesepakatan hak yang menyertai karya tersebut. Pada titik itulah kreator dapat mengetahui apakah ruang kolaborasi ini memberi mereka peran sebagai pemilik IP, mitra produksi, atau penyedia materi dengan imbalan tertentu.
Baca juga:
Artikel terkait


WCCE 2026 mengajak KOL—jejaring kreator dibawa ke forum global

TikTok membawa 30 kreator ke TIFF—FilmTok masuk ruang industri

HR Tech Summit Jakarta menarik 1.200 peserta—agentic AI masuk agenda HR

Creativillage membuka tiga zona—eksposur belum sama dengan kontrak bisnis

Sertifikasi kreator Kemenekraf hanya 30 kursi—portofolio jadi syarat
Berlangganan buletin kami
Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.