Enam startup TIK mendapat panggung industri—akses pembeli jadi ujian berikutnya

|Penulis: Tim Redaksi QUASA|5 mnt baca| 1
Enam startup TIK mendapat panggung industri—akses pembeli jadi ujian berikutnya

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memfasilitasi enam startup jasa TIK dalam Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026 di Bidakara, Jakarta, pada 13–14 Oktober 2026; Direktur Jasa TIK Donny Harso mengatakan para peserta telah melalui kurasi. Mereka mendapat stan di Paviliun Creative By Indonesia, kesempatan presentasi di Innovation Stage, dan sesi business matching dengan calon pembeli serta mitra industri. Pertemuan itu membuka peluang bisnis, sementara hasil pembelian atau kerja sama masih bergantung pada tindak lanjut setelah forum.

Dua peserta yang dapat dikenali beserta penawarannya ialah PT Sakti Kinaja Kolaborasindo, penyedia aplikasi bagi koperasi dan UMKM, serta SQOUTS, yang memperkenalkan penilaian berbasis suara dengan bantuan AI. Muhammad Ikhsan, salah satu pendiri SQOUTS, menggambarkan manfaat pembinaan dan akses ke calon klien industri dengan kalimat, “Jadi, untuk approach ke industri sangat membantu.” Minat pengunjung memberi petunjuk tentang kemungkinan pengguna, tetapi belum menunjukkan adanya kontrak dari acara tersebut.

Apa yang diterima startup di paviliun Kemenekraf

Fasilitasi Kemenekraf memberi peserta beberapa kesempatan dengan fungsi berbeda. Stan membuat produk mereka terlihat oleh pengunjung pameran. Innovation Stage menyediakan ruang untuk menjelaskan kegunaan solusi, sedangkan business matching mempertemukan penyedia teknologi dengan calon pembeli dan mitra yang dapat menanyakan penerapannya secara lebih rinci. Bagi startup jasa TIK, percakapan terakhir itu paling dekat dengan kebutuhan calon pengguna: apa masalah yang hendak diselesaikan, siapa yang akan memakai layanan, dan bagaimana kerja sama dapat dimulai.

Sebagian besar peserta pernah mengikuti program fasilitasi kementerian sebelum tampil di paviliun ini. Keikutsertaan dalam forum industri memberi mereka kesempatan membawa hasil pembinaan ke hadapan pasar, dengan calon pengguna yang dapat menilai kecocokan produk untuk kegiatan usahanya. Namun, kurasi dan kesempatan presentasi menggambarkan dukungan yang diberikan, bukan ukuran jumlah pelanggan yang sudah diperoleh.

Jenis kontak yang muncul juga berbeda. Calon pembeli dapat mempertimbangkan penggunaan produk, sementara mitra industri berpotensi membantu penerapan atau membuka jaringan baru. Vendor dan mentor dapat berguna bagi pengembangan perusahaan tanpa menjadi pelanggan langsung. Pembedaan itu penting ketika manfaat pameran mulai dinilai: bertambahnya kenalan bisnis adalah hasil yang nyata, tetapi transaksi membutuhkan keputusan lanjutan dari pihak yang akan memakai atau membayar layanan.

Sakti Kinaja membawa layanan koperasi dan UMKM

Koperasi dan pelaku UMKM sebagai sasaran layanan digital PT Sakti Kinaja Kolaborasindo.

PT Sakti Kinaja Kolaborasindo memperkenalkan aplikasi bagi koperasi, termasuk Cooperative Data Center untuk membantu penilaian kelayakan kredit anggota. Perusahaan itu juga menawarkan aplikasi toko daring bagi usaha mikro, kecil, dan menengah. Penawaran tersebut menyasar dua kebutuhan yang berlainan: pengelolaan informasi dalam layanan koperasi dan saluran penjualan digital bagi pelaku usaha. Karena itu, peluang komersialnya perlu dilihat dari calon pengguna masing-masing, bukan hanya dari perhatian yang didapat di stan.

Direktur sekaligus Chief Operation Officer perusahaan, Indra Lesmana, mengatakan Sakti Kinaja “dikenalkan dengan banyak vendor, calon mentor-mentor, dan calon stakeholder” melalui keikutsertaan di pameran. Kontak tersebut dapat membantu perusahaan menjajaki kerja sama dan memperluas jaringan yang sebelumnya terbatas. Bukti akses pasar yang lebih kuat kelak ialah koperasi atau pelaku UMKM yang disebut secara jelas mulai mencoba layanan, disertai keterangan tentang bentuk dan kelanjutan penggunaannya.

Cooperative Data Center ditawarkan untuk membantu penilaian, sehingga keputusan kredit tetap perlu dibedakan dari fungsi aplikasi tersebut. Pada sisi UMKM, keberadaan aplikasi toko daring menunjukkan produk yang ditawarkan, tetapi belum menjelaskan apakah ada penjual baru yang menggunakannya setelah acara. Kedua rincian ini membuat tindak lanjut Sakti Kinaja lebih mudah dinilai: pengguna koperasi dan pengguna toko daring akan menghasilkan bentuk penerapan yang berbeda.

SQOUTS menarik minat untuk penggunaan internal dan survei

Penilaian lisan yang menggambarkan kegunaan layanan berbasis suara SQOUTS.

SQOUTS memperkenalkan layanan penilaian berbasis suara dengan bantuan AI yang dapat digunakan untuk wawancara massal, survei, ujian lisan, dan simulasi pelatihan. Minat pengunjung yang diungkap perusahaan mengarah terutama pada penggunaan internal perusahaan; ada pula pihak yang tertarik memakai layanan itu untuk survei langsung kepada masyarakat. Perbedaan tersebut menunjukkan dua kemungkinan kebutuhan, yakni penilaian dalam proses organisasi sendiri dan pengumpulan jawaban dari publik.

Minat itu membantu menunjukkan di mana calon pengguna melihat kegunaan layanan SQOUTS. Namun, ketertarikan belum menjelaskan apakah sebuah organisasi telah memulai proyek, seberapa luas layanan akan digunakan, atau siapa yang mengambil keputusan pembelian. Jika kemudian diumumkan proyek percontohan dengan pengguna bernama, itu akan menunjukkan langkah yang lebih jauh daripada percakapan di pameran. Kontrak layanan atau kemitraan dengan ruang lingkup yang jelas akan memberi ukuran komitmen yang lebih tegas.

Daftar lengkap peserta dan solusi masing-masing belum diumumkan. Sakti Kinaja dan SQOUTS memberi contoh konkret ragam produk yang tampil, tetapi keduanya tidak mewakili seluruh penawaran di paviliun. Identitas peserta lain dan perkembangan pertemuan bisnis mereka masih diperlukan untuk menilai dampak fasilitasi secara menyeluruh.

Forum industri membuka kontak, hasilnya menunggu tindak lanjut

Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital mencatat Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026 berlangsung di Bidakara Hotel, Jakarta, pada 13–14 Oktober 2026 dengan tema “AI-Powered Industry: Shaping the Future of Intelligent Enterprise”. Forum itu melibatkan pemerintah, industri, akademisi, dan penyedia teknologi. Kehadiran pelaku industri memberi konteks bagi sesi presentasi dan business matching: startup dapat memperkenalkan solusi kepada pihak yang mungkin menilai kegunaannya dalam kegiatan usaha.

Bagi Sakti Kinaja, tindak lanjut yang berarti ialah uji coba layanan bersama koperasi atau pengguna aplikasi toko daring. Bagi SQOUTS, perkembangan yang sepadan ialah proyek penilaian berbasis suara dengan pengguna korporasi atau mitra survei yang disebutkan secara terbuka. Nama pengguna, tujuan penerapan, dan status kerja sama akan menunjukkan seberapa jauh akses yang dibuka di forum berubah menjadi penggunaan produk. Sampai rincian itu tersedia, hasil yang terkonfirmasi ialah kesempatan peserta untuk tampil, menjelaskan solusi, dan bertemu calon pembeli serta mitra.

Baca juga:

Bagikan:

Berlangganan buletin kami

Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.

0