AI menggeser 92 juta pekerjaan—170 juta peran baru menjadi taruhannya

|Penulis: Tim Redaksi QUASA|5 mnt baca| 1
AI menggeser 92 juta pekerjaan—170 juta peran baru menjadi taruhannya

Dalam laporan Bisnis.com dari Digital Infrastructure Summit 2026 di Jakarta pada 12 Oktober 2026, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengutip proyeksi 92 juta pekerjaan tergeser dan 170 juta pekerjaan baru hingga 2030. Ia mendesak pekerja bersiap memasuki peran yang tumbuh: “Jadi kita harus masuk ke wilayah pekerjaan barunya”. Angka yang ia gunakan berlaku untuk dunia, bukan perkiraan kehilangan pekerjaan khusus Indonesia.

Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan 92 juta pekerjaan tergeser dan 170 juta pekerjaan tercipta secara global pada 2025–2030, atau pertambahan bersih 78 juta; dari setiap 100 pekerja, 59 diperkirakan membutuhkan peningkatan atau pelatihan ulang keterampilan sebelum 2030. AI termasuk penggerak perubahan itu, bersama pergeseran ekonomi, demografi dan transisi energi. Karena itu, seluruh pekerjaan yang diproyeksikan tergeser tidak dapat dianggap hilang akibat AI saja.

Dari mana proyeksi pekerjaan itu berasal

Perkiraan tersebut menggambarkan perubahan struktur pasar kerja, bukan jumlah orang yang sudah diberhentikan. Perhitungannya menggabungkan pandangan perusahaan yang disurvei tentang pekerjaan yang akan bertambah atau berkurang dengan data ketenagakerjaan internasional. Hasilnya menunjukkan dua arus yang berlangsung bersamaan: sebagian posisi menyusut, sementara permintaan untuk pekerjaan lain meningkat.

Perluasan akses digital dan penggunaan AI dapat mengubah cara perusahaan mengerjakan tugas. Pada saat yang sama, kebutuhan energi yang lebih bersih, perubahan usia penduduk, serta tekanan ekonomi turut memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Masing-masing penggerak bekerja berbeda menurut sektor dan wilayah. Itulah sebabnya angka dunia tersebut tidak dapat langsung diubah menjadi perkiraan jumlah pekerja Indonesia yang akan kehilangan pekerjaan.

Pertumbuhan bersih pada tingkat global juga tidak berarti pekerja dari posisi yang menyusut akan otomatis mengisi posisi yang muncul. Lowongan baru dapat berada di lokasi lain, memerlukan pengalaman berbeda, atau menuntut pelatihan yang belum tersedia. Jarak antara pekerjaan lama dan pekerjaan baru inilah yang membuat peringatan AHY relevan bagi Indonesia, meskipun angka yang dikutip bukan proyeksi nasional.

Pekerjaan yang diperkirakan tumbuh dan menyusut

Peran pengemudi pengantaran yang diperkirakan tumbuh berhadapan dengan peran teller bank yang diperkirakan menyusut.

Dalam jumlah posisi, pertumbuhan diperkirakan menonjol pada pekerjaan yang sudah menjadi bagian besar dari perekonomian: pekerja pertanian, pengemudi pengantaran, pekerja konstruksi, tenaga penjualan dan pengolahan pangan. Profesi perawatan serta pendidikan juga diperkirakan berkembang. Pekerjaan baru dengan demikian tidak hanya berarti posisi yang memakai AI secara langsung.

Jika pertumbuhan diukur sebagai persentase dari jumlah pekerja pada tiap profesi, gambarnya berubah. Spesialis data besar, insinyur teknologi finansial, spesialis AI dan pembelajaran mesin, serta pengembang perangkat lunak termasuk peran yang tumbuh cepat. Persentase pertumbuhan yang tinggi tidak selalu menghasilkan penambahan posisi terbanyak: profesi yang sejak awal besar dapat menambah lebih banyak pekerja meski laju pertumbuhannya lebih rendah.

Di sisi penyusutan, perkiraan terutama mencakup pekerjaan administrasi dan kesekretariatan, termasuk kasir, petugas tiket, asisten administrasi, teller bank dan petugas entri data. Daftar tersebut menunjukkan arah perubahan permintaan, bukan tanggal ketika suatu profesi berhenti ada. Tugas dalam satu jabatan pun tidak selalu bergerak serentak: pencatatan berulang dapat berkurang sementara penanganan kasus yang tidak biasa tetap memerlukan keputusan manusia.

Bagi Indonesia, perbedaan antara jumlah posisi dan laju pertumbuhan penting saat menilai peluang. Pelatihan untuk peran teknologi yang berkembang cepat dapat membuka jalur bagi sebagian pekerja, tetapi pertumbuhan pekerjaan lapangan, perawatan dan pendidikan membawa kebutuhan keterampilan yang berbeda. Daftar global memberi arah; kecocokan dengan lowongan setempat masih bergantung pada sektor dan tugas yang benar-benar dibutuhkan.

Keterampilan perlu mengikuti tugas yang berubah

Pekerja pertanian melatih penilaian mutu hasil panen sebagai contoh peningkatan keterampilan berbasis tugas.

Penyiapan keterampilan menjadi lebih jelas ketika pekerjaan dilihat sebagai rangkaian tugas, bukan sekadar nama jabatan. Pada pekerjaan administrasi, memasukkan data berulang berbeda dari menemukan kesalahan, menilai apakah hasilnya masuk akal, dan menjelaskan penyimpangan kepada pelanggan atau rekan kerja. Ketika bagian rutin lebih mudah diotomatisasi, kemampuan menangani pengecualian dan menjaga mutu informasi menjadi semakin relevan.

Untuk tugas yang menggunakan teknologi, kebutuhan yang diperkirakan menguat meliputi pemahaman AI dan data, literasi teknologi, serta jaringan dan keamanan siber. Namun, berpikir analitis, kreativitas, kemampuan beradaptasi dan bekerja sama tetap penting untuk memakai alat tersebut secara bertanggung jawab. Seorang pekerja tidak perlu berganti ke jabatan bernama spesialis AI agar peningkatan keterampilannya berguna; ia dapat memerlukan kemampuan menilai keluaran sistem dalam pekerjaan yang sudah dijalankan.

Pada pekerjaan lapangan, titik beratnya dapat berbeda. Penilaian mutu hasil panen berhubungan langsung dengan pekerjaan pertanian; pengelolaan sumber daya dan keputusan operasional relevan ketika kondisi kerja berubah. Dalam pekerjaan perawatan, memahami kebutuhan orang yang dilayani dan berkomunikasi dengan jelas merupakan bagian dari tugas, bukan pelengkap kursus teknologi. Contoh-contoh itu menunjukkan mengapa satu daftar pelatihan yang sama untuk semua profesi akan terlalu kasar.

Perpindahan kerja juga memerlukan jembatan yang lebih panjang daripada mempelajari perangkat baru. Pekerja yang tugas lamanya menyusut mungkin perlu memahami proses di bidang lain, memperoleh pengalaman praktik, lalu menunjukkan kemampuan tersebut kepada pemberi kerja. Sementara itu, pekerja yang tetap pada profesinya mungkin hanya perlu memperbarui bagian tertentu dari tugasnya. Kedua kebutuhan itu menuntut bentuk pelatihan yang berbeda.

Arti peringatan AHY bagi Indonesia

AHY menghubungkan kesiapan menghadapi perubahan kerja dengan pemerataan infrastruktur digital. Dalam laporan ANTARA dari acara yang sama, ia menyebut perlunya “dukungan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia” agar ekosistem ekonomi digital dapat tumbuh di berbagai daerah. Ia juga memperingatkan adanya kesenjangan peluang antara kelompok yang menguasai teknologi dan yang tertinggal.

Akses tersebut berpengaruh pada kesempatan belajar maupun mencari pekerjaan baru. Pekerja dapat menghadapi perubahan tugas di tempatnya bekerja, tetapi pelatihan yang sesuai dan lowongan berikutnya belum tentu tersedia di wilayah yang sama. Karena itu, pertumbuhan pekerjaan secara global dapat berjalan bersamaan dengan kesulitan berpindah kerja secara lokal. Besarnya peluang bagi pekerja Indonesia baru terlihat lebih jelas ketika perubahan tugas dan kebutuhan tenaga kerja dipetakan menurut sektor dan daerah.

Konsekuensi terdekat bagi pekerja berada pada isi pekerjaannya sehari-hari: tugas mana yang mulai berubah, kemampuan mana yang masih dibutuhkan, dan apakah ada kesempatan mempelajari tugas baru sebelum pekerjaan lama menyusut. Tanpa kecocokan itu, bertambahnya peran di tingkat dunia belum tentu membuka jalan masuk bagi orang yang pekerjaannya sedang bergeser.

Baca juga:

Bagikan:

Berlangganan buletin kami

Dapatkan berita Web3, AI, dan kripto terbaru langsung di kotak masuk Anda.

0